Tewasnya sejumlah anggota Polres Katingan, Kalimantan Tengah dalam rencana penangkapan bandar narkoba di daerah itu memperlihatkan ketidakprofesionalan polisi dalam upaya penangkapan itu. Polisi seolah-olah yakin bahwa penangkapan itu akan berjalan mulus, sesuatu yang ternyata jauh dari harapan.
Dua orang tewas dalam penangkapan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Katingan, Kamis 2 Juli dini hari lalu dan satu orang, hingga tulisan ini dibuat, belum ditemukan. Satu tewas karena luka bacok dan satu lainnya ditemukan tewas di sungai Katingan yang beraliran deras di bawahnya.
Mereka anggota dari tim polisi yang berniat akan menangkap bandar narkoba di wilayah itu, berinisial BIO, yang sangat terkenal. Untuk penangkapan tersebut Kepolisian Katingan menerjunkan dua tim beranggota belasan orang.
Narkoba terus marak di provinsi ini. Katingan termasuk salah satu daerah yang peredaran narkobanya cukup tinggi -dan sudah sangat meresahkan. Warga terus berteriak dan meminta polisi memberantas peredaran narkoba di wilayah mereka, tapi tak pernah hasilnya memuaskan.
Sebagai kegiatan ilegal dan menghasilan uang banyak dengan mudah, kita tahu bandar narkoba selalu berupaya untuk bisa merangkul aparat agar kegiatan mereka aman. Di sisi lain mereka juga mempersiapkan segala sesuatunya jika kegiatan mereka dihentikan, termasuk pengerahan massa dan persiapan senjata. Inilah yang tampaknya kurang diantisipasi Polres Katingan pada peristiwa Kamis lalu.
Semestinya polisi merancang persiapan ini dengan matang. Bahwa operasi penggerebekan itu harus dilakukan secara rahasia, itu harus. Namun, semestinya lebih siap: mengantisipasi perlawanan, termasuk dari warga sekitar yang biasanya juga sudah hidup dari bisnis haram itu. Di luar itu, kesiapan pasukan lain jika terjadi apa-apa juga harus disiagakan. Karena begitu terdesak, dalam tempo kilat, pasukan bantuan itu bisa segera dipanggil.
Ini tidak kita lihat dalam kasus kemarin. Yang terjadi jelas bisa diduga: polisi kocar-kacir, berterjunan ke sungai menyelamatkan diri, massa mengepung, lalu terjadi pembunuhan itu. Menyedihkan, juga memalukan.
Polres Katingan harus belajar dari kasus ini. []



















Komentar