oleh

Opini: Bambang Pergi Meninggalkan Cermin

Para pengeroyok itu semestinya melihat wajah mereka di cermin Pejompongan, Tanah Abang. Di sebuah kios sederhana, cermin-cermin itu dijual Bambang Setiyawan untuk menafkahi keluarganya. Sebuah pekerjaan sederhana, halal, yang ia tekuni bertahun-tahun.

Tapi mereka tak sempat melihat -atau tak sudi melihat. Karena yang akan mereka lihat adalah wajah yang sebenarnya tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, mereka perjuangkan. Wajah  yang sesungguhnya hanya bergerak menunggu perintah dan karena itu mendapat upah sekian ribu. Wajah-wajah keruh yang bisa diperintahkan apa saja dengan satu komando.

Komando itu yang entah dari siapa yang membuat mereka menyeret Bambang, menghajarnya  dengan alasan yang sangat tak jelas. Pria 59 tahun itu tak berdaya. Tubuhnya ringkih,  kepalan tangan, kaki dan lain-lain  menghajarnya. Lalu kumpulan pengecut itu  bubar begitu saja. Lalu kita tahu penjual cermin itu meninggal. Ia tak memiliki kesalahan apa pun. Ia tidak ikut demo, ia bukan mahasiswa. Ia orang biasa, orang dari kalangan bawah -seperti yang mengeroyoknya itu.

Kita marah -tidak hanya kepada pengeroyoknya, tapi terutama pada mereka yang menerjunkan gerombolan pengeroyok itu. Tugas polisi mencari dan menemukan para pengeroyok itu. Terlalu mudah bagi polisi untuk melakukan hal seperti itu.

Bambang mengingatkan kita pada Affan, tukang ojek yang juga tewas, saat unjuk rasa di Jakarta beberapa waktu lalu. Orang-orang kecil selalu jadi korban. Orang-orang kecil diterjunkan untuk diadu dan mengaduk-aduk pengunjuk rasa. (domainhukum.id)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed